Jika Kau Rindu Blazermu

Di antara harum masakan yang menguar dari wajan dan panci panas, seorang Ibu menyeka keringatnya.

Hari-harinya sesederhana memasak dan mengantar sekolah anak, melipat selimut dan melatih sabar agar tidak mudah merengut, menjalankan bisnis dari rumah sembari memastikan segala kewajiban sebagai Ibu dan istri berjalan terarah.

Anak-anaknya tumbuh sehat ceria, pun suaminya menemani dan membantu mengurusi segala lintang pukang dalam berumah tangga. Semua telah terkoordinir dalam kerja sama.

Si Ibu menghela syukur dalam nafasnya, sembari teringat betapa lincahnya ia semasa sekolah dan kuliah, betapa berprestasinya ia di mata teman seangkatan, betapa dibanggakannya ia oleh orang tua dan keluarga.

Masih di tengah kepulan aroma masakan, ia menggeser ingatan pada betapa bahagia ketika ia pertama bekerja, betapa gemah ripah penghasilannya, betapa banyak yang bisa ia bagikan ke sesama.

Ia mulai rindu blazernya, rindu mengenakannya, rindu berkontribusi sebagai tenaga ahli karena sadar ia masih menyimpan begitu banyak potensi yang belum terjamah elaborasi.

Kemudian ia teringat deretan teman masa sekolahnya yang nilainya bahkan tidak jauh lebih baik darinya, yang prestasinya hanya bergulir mepet standar kelulusan, yang adabnya selama menuntut ilmu tidak elok untuk ditiru, namun mereka tetap meniti karir dan lengkap dengan atribut yang pantas dibanggakan.

Si Ibu gerah. Si Ibu makin rindu blazernya.
Rindu mengejawantahkan passion pembelajarnya, rindu mewujudkan rupa buah pikirnya, rindu mengasah kritis pada ilmu empiris.

Sementara dasternya makin lekat aroma masakan. Sementara dasternya makin pekat dengan keringat.

===

Niat.
Adalah satu hal yang wajib kita cantolkan pada tiang-tiang baja agar tetap lurus sesuai itikad awalnya.

Ketika wanita dengan segala potensi kontribusinya untuk dunia memilih untuk “bertapa”, mengistirahatkan ijazahnya, menyimpan blazernya, dan memilih jalan pengabdian dari rumah maka wanita perlu melaminasi niat mereka agar tetap lurus dan tulus.

Ada yang menepi demi membersamai suami, agar pernikahan dijalani dalam jarak yang lebih berdekatan. Ada yang menepi demi menjamin pengasuhan buah hati. Ada yang menepi demi menggenapi jemputan ridho Illahi.

Maka niat inilah tempat para wanita kembali merefleksikan orientasi, tempat mengukur progres pencapaian diri, tempat memulangkan ricuhnya ego yang terjangkiti polusi duniawi.

Ketika kau rindukan blazermu, untuk sekedar mengkatrol kasta sosialmu..
Wajar berpikir demikian di antara gempitanya pergaulan. Namun melambungkan dan menjaga kesederhanaan, adalah juga ideologi yang belum pasti semua orang mampu mengeksekusi.

Ketika kau rindukan blazermu, untuk pembuktian pada teman seangkatanmu..
Bahwa mereka yang dulu nilainya jeblok luar biasa, yang kita lihat sekarang mampu berfoya-foya belum tentu memiliki sedimentasi bahagia seindah kita.
Keberhasilan membesarkan keluarga dan anak, ditentukan oleh Ibu yang selalu mau belajar.

Ketika kau rindukan blazermu, untuk alasan menambah lebih banyak pundi sementara suami masih mampu mencukupi..
Tengok kembali tauhid rezeki kita, tengok kembali frekuensi sedekah kita. Revisi.
Karena antara definisi butuh dan ingin, kadang disusupi oleh rasa tamak yang menguak.

Ketika kau rindukan blazermu, bukan untuk kebermanfaatan yang nyata bagi kehidupan, bukan untuk membantu mengurangi permasalahan umat, bukan untuk mengembalikan bakti pada orang tua..
Ukur kembali seberapa dunia membutuhkan kita, seberapa banyak yang bisa kita berikan dibandingkan dengan otoritas penuh kita meramut keluarga dengan teladan kebaikan langsung dari tangan pertama.

===

Dastermu, boleh jadi tidak ada harganya dibanding dengan blazermu di masa lalu.

Menjadi Ibu dan istri adalah jalan panjang yang cukup menyibukkan diri jika kita berkenan selalu belajar dari hari ke hari. Dan daster-daster apak kita adalah alat bukti, betapa keringat telah kita ikhlaskan untuk berjibaku menguras mental dan tenaga.

Ibu rumah tangga tetap butuh terdidik, tetap butuh pengalaman bekerja demi mengasah keterampilan sosialnya, tetap butuh belajar dari pengalaman Ibu lainnya baik sesama Ibu berdaster maupun dari Ibu berblazer.
Karena dari saripati pengalamannya, ia akan mampu menentukan manuver berumah tangga dengan bijaksana.

Ketika dastermu mulai kumal, dan kau tergoda untuk menggantinya dengan blazer mahal, tentu itu wajar.

Coba renungi dulu barang sebentar, siapa tau kita hanya butuh daster lain yang lebih baru, yang lebih bersinar karena dijejali ilmu, yang lebih bersahaja karena aura pemakainya pun bijaksana.

Pun demikian dengan para Ibu yang akrab dengan blazernya, akan ada saatnya mereka menimang peran sutradara yang menghidupkan keluarga dari balik sunyinya layar rumah tangga.

Jalan lenggang tiap wanita akan selalu beriak tidak sama. Jika kita berganti kostum suatu hari nanti, pastikan niat adalah yang paling pertama kita curigai.

 

*somewhere over facebook

Advertisements

One thought on “Jika Kau Rindu Blazermu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s