batas cinta

Keringat meleleh tanpa ampun dari dahinya. Sebagian masuk menyusup ke dalam kelopak mata, menimbulkan perih. Sebagian lagi merembes turun. Membasahi dagu dan punggung Salman Al Farisi.

“Turunkan ibu, Nak”, pinta wanita renta yang ia bopong di punggungnya. “Ibu bisa berjalan sendiri”.

Salman menggeleng pada permintaan Ibunya yang entah sudah keberapa kalinya. Nafas Salman berat dan terengah tapi ia tak mau menyerah. Ini putaran tawaf mereka yang keenam. Sedikit lagi, tekadnya, sedikit lagi. Terbayang olehnya pintu-pintu surge membuka lebar untuknya.

Ratusan jemaah haji berjalan bersama mereka, melanntunkan doa sambil tersengal. Zikir ibunya mengayun, mengembalikan Salman pada suatu masa. Ketika ia berada dalam gendongan sang ibu. Ia bukan bayi itu lagi. Salman memejamkan mata, membayangkan dosa-dosanya. Entah sudah berapa kali ia sakiti ibunya lewat dosa-dosa ini. Apakah Tuhan berkenan membatalkan sebagian saja jika ia usap luka-luka hati ibunya?

Salman pernah bertanya kepada seorang alim ulama, “Jika kuajak ibuku berhaji, kugendong ia sampai ke Mekkah, dan kubawa ia bertawaf di punggungku, apakah akan terhapus seluruh dosaku? Apakah akan terbalas seluruh jasa ibuku?”

Ulama itu hanya tersenyum lalau berkata, “Salman, perihal dosamu, aku tak tahu. Jangankan dosamu. Dosaku saja masih berderet-deret”. Ulama itu menarik nafas panjang, menatap lantai batu tempat mereka bersila. “Tapi ini yang aku tahu persis, Salman”, lanjutnya.

“Bahkan jika kau gendong ibu di punggungmu, lalu kau bawa beliau seribu kali memutari Ka’bah, tak setetes pun darah yang beliau korbankan saat melahirkanmu akan bisa kau balas”.

Kini, saat sedang menyelesaikan putaran tawaf terkahirnya, tubuh Salman dipaksa runduk oleh punnggung, kaki, dan tangannya yang kepayahan. Berat ibunya telah banyak menyusut bersamaan dengan tanggalnya gigi tua itu. Tapi memutari Ka’bah dengan ibu punggungnya, sambil berimpitan dengan ratusan jemaah lain, membuat Salman perlahan terseok.

“Sedikit lagi, Salman”, hibur ibunya lembut. “Sedikit lagi dan kita akan sampai.”.

Saat mereka berhasil melewati tawaf hari itu, Salam mendudukkan ibunya dengan lembut di atas sebuah sajadah, jauh di tepian Ka’bah. Ia biarkan sang ibu menata kembali napasnya. Dalam senyap, mereka bersisian memandangi kerumunan manusia yang makin memadati tempat suci itu.

“Lelahkah, Ibu?”

Ibunya tersenyum. Kulit yang mengendur di sisi-sisi bibirnya terntang halus. “Harusnya Ibu yang bertanya begitu”.

Salam lalu berlutuu di depan wanita mulianya. Dengan kedua tangan, ia genggam tangan sang ibu. Menundukkan kepala lalu melekatkan dahinya pada tangan yang dipenuhi jejak kerja keras itu.

“Ibu, aku tahu. Tak bisa kubalas setiap nafas yang kau tarik karena tingkahku, setiap peluh yang menetes saat merawatku, dan setiap tetes darah yang tertumpah saat kau melahirkanku”. Bahu Salman terguncang keras, “Tapi Ibu, apakah engkau ridha padaku?”

Perempuan dengan wacah bercahaya itu tersenyum. Matanya berpendar oleh rasa harudan bangga. Betapa telah ia rentang kuat-kuat setiap jengkal tubuhnya saat membesarkan Salman seorang diri. Tak ada yang tak ia korbankan untuk anaknya ini.

Ia ulurkan tangan kecilnya yang rapuh, membelai Salman yang separuh bersujud di kakinya. “Nak,” pelan ia berucap,

“Ibu ridha padamu.”

Seketika itu juga langit Mekkah melesatkan sinar putih yang amat sangat terang. Di kaki ibunya Salman menangis tergugu.

source: http://irinepraptiningtyas.tumblr.com/post/92620859742/batas-cinta
thank you, irine! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s