rahasia kecil

Ada satu rahasia kecil yang sampai beberapa saat yang lalu masih saya simpan. Namun sekarang, saya memutuskan untuk membagikan rahasia kecil pada dunia.

Saya, sejak tanggal 7 November 2012 ย hingga saat ini tidak pernah bisa untuk tidak menangis setiap membaca atau mendengarkan Surat Ar Rahmaan. Sifat melankolis saya selalu meluap-luap setiap mendengar atau membaca surat ini. Selalu ada flashback terkait kenangan terakhir saya dengan almarhum mamah yang membuat saya lumayan sulit untuk mengendalikan perasaan saya setiap membaca surat ini.

Di hari terakhir mamah saya hidup di dunia, tanggal 6 November 2012, saat beliau merasakan sakit yang teramat sangat karena penyakitnya, saat beliau selama seharian penuh mengalami kesulitan untuk bernapas, saat seluruh badannya mulai mati rasa sedikit demi sedikit, saat beliau sudah terlihat kepayahan untuk berbicara dengan suami serta anak-anaknya, saya hanya bisa diam. Pada saat itu saya tidak bisa mengeluarkan kata apapun untuk menghibur beliau, bahkan untuk bergerak mengelus rambut beliau pun saya tidak mampu. Badan saya terasa kaku. Saya bingung apa yang harus saya lakukan pada saat itu. Sejak pagi hingga siang hari, hanya ada saya yang menemani beliau di ruang perawatan karena papap sedang pulang ke rumah untuk istirahat sebentar dan kedua adik saya harus masuk sekolah. Pada saat itu, saya hanya bisa menggenggam erat tangan beliau sambil membisikkan dzikir di telinga beliau. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Hanya ituโ€ฆ

Setelah napas mamah terdengar mulai kembali berirama, saya mulai melonggarkan gengaman tangan saya pada beliau. Setelah itu, dengan susah payah beliau membalikkan badannya untuk melihat saya. Mata itu, mata yang penuh dengan kasih sayang tulus, mata yang selalu memberikan keteduhan, mata yang selalu terjaga saat menemani saya belajar setiap malam sejak kecil, mulai menatap saya dalam-dalam. Saya tidak membaca sedikitpun kesedihan dalam tatapan beliau. Yang bisa saya lihat, adalah tatapan keikhlasan serta tatapan yang memberikan saya kekuatan untuk tetap kuat. Pada saat itu saya berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar air mata saya tidak jatuh, saya tidak ingin membuat beliau khawatir dan merasa sedih.

Selama beberapa detik, mata saya dan mamah beradu pandang. Selama itu, tidak ada satu kata pun yang terucap antara kami berdua. Akhirnya saya menyerah, air mata saya akhirnya tumpah juga tidak lama setelah itu. Saya pun menundukkan kepala saya. Menempatkan dahi saya di telapak tangan mamah yang lembut dan mulai menangis. Rasanya sesak melihat mamah dengan keadaan yang terlihat sangat lemah pada saat itu. Mamah yang selama ini saya kenal sebagai pribadai yang selalu sehat dan kuat, saat ini justru sedang terbaring lemah dan tidak berdaya. Perasaan saya campur aduk pada saat ituโ€ฆ.

Saat saya menangis, mamah meraih tangan saya. Beliau kemudian mengelus kepala saya dengan lembut. Kemudian, beliau mengungkapkan keinginannya untuk mendengarkan saya mengaji, beliau ingin saya membacakan surat favoritnya, Surat Ar Rahmaan tepat di telinganya.

Saat baru setengah surat saya bacakan untuk beliau, kedua adik saya pun datang. Mamah meminta saya untuk berhenti sebentar mengaji dan meminta saya mengajak kedua adik saya untuk makan siang dahulu. Saya pun menuruti beliau, setelah meletakkan Al Quran saya di meja sebelah ranjang, saya pun pamit ke mamah untuk keluar mencari makan siang dengan kedua adik saya. Setelah kurang lebih satu jam meninggalkan mamah sendirian di kamar pasien, saya dan kedua adik saya pun kembali lagi ke Rumah Sakit. Ketika sampai di ruang perawatan mamah, saya pun langsung duduk di sebelah beliau dan mulai melanjutkan kembali bacaan Surat Ar-Rahmaan yang tadi sempat tertunda.

Baru saja membacakan beberapa ayat untuk beliau, datanglah beberapa orang keluarga, teman-teman mamah dan beberapa orang tetangga kami untuk menjenguk mamah secara bergantian. Saya pun kembali menghentikan kegiatan mengaji saya karena harus melayani tamu-tamu tersebut.

Hingga sore hari, jumlah orang yang datang untuk membesuk mamah tidak berkurang. Saya sangat bersyukur bahwa banyak sekali orang yang sayang pada mamah dan mendoakan kesembuhan untuk beliau. Hari itu, walaupun mamah terlihat sangat lelah, namun beliau selalu tersenyum pada setiap orang yang menjenguknya. Saya pun teringat kata-kata mamah dahulu, bahwa โ€œsetiap orang mempunyai hak atas senyum kitaโ€.

Karena terdistraksi oleh banyaknya tamu yang datang membesuk serta harus mengurusi administrasi dan farmasi mamah, saya pun lupa untuk melanjutkan untuk membacakan surat Ar-Rahmaan untuk mamah. Saya sangat sangat lupa akan janji saya pada beliau. Saya sibuk sendiri dengan kegiatan lain pada sore itu. Hingga malam menjelang, saya tetap tidak ingat akan janji saya pada beliau.

Sekitar pukul 19.00 WIB, papap dan teteh datang ke Rumah Sakit. Membawakan baju ganti untuk saya, alas tidur, bantal serta makan malam dalam rantang. Papap meminta kedua adik saya untuk segera pulang kerumah karena besok harus kembali masuk pagi. Namun kedua adik saya menolak. Keduanya ingin tidur di Rumah Sakit menemani mamah. Akhirnya pada malam itu kami sekeluarga lengkap tidur di Rumah Sakit.

Malam itu, saya, papap, teteh, rani dan aa bergantian menjaga mamah. Kami secara bergantian bangun dari tidur dan mulai membasuh keringat mamah atau mengelus-elus mamah,serta memastikan infusan mamah tidak kering.

Rabu, 7 November 2012, pukul 1.48 WIB , pada saat bagian saya menjaga mamah, saya menawarkan diri untuk melanjutkan membaca surat Ar-Rahmaan untuk beliau. Namun beliau menolaknya dan meminta untuk dilanjutkan bacaannya besok pagi saja setelah subuh. Mamah berkata bahwa beliau ingin saya tidur cepat dan segera beristirahat. Saat itu, mamah juga dengan terbata-bata karena nafasnya masih belum stabil mengucapkan terimakasih kepada saya karena telah menjaga dan mengurus beliau. Lagi-lagi, saya tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Saya hanya bisa tersenyum dan kemudian mencium kening beliau dan pamit untuk kembali tidur.

Saya pun kemudian langsung tidur. Karena kelelahan, saya pun tertidur dengan cepat. Tidak pernah terbayangkan dalam pikiran saya, bahwa saat itu adalah saat terakhir saya berbincang dengan beliau, saat itu adalah saat terakhir saya berinteraksi dengan beliauโ€ฆ.

Sekitar pukul 02.30 WIB, saya terbangun karena kaget mendengar tangisan adik bungsu saya. Saat bangun, saya langsung menuju ranjang mamah. Saat itu mamah telah meninggal dunia. Jasad mamah telah terbujur kaku di tempat tidurnya. Beliau tersenyum lebar hingga gigi kelincinya sedikit terlihat, tangannya telah dalam keadaan bersedekap seperti orang yang sedang shalat dan tubuhnya menghadap ke arah kiblat. Saat melihat beliau, dunia saya serasa runtuh. Kaki saya lemas. Saya langsung terhuyung jatuh ke lantai. Hati saya hancur dan napas saya sesak. Baru saja beberapa waktu yang lalu saya berbincang dengan beliau, sekarang beliau telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Saya pun kembali mengingat akan janji saya kepada beliau yang akan melanjutkan membacakan Surat Ar-Rahmaan untuk beliau. Dada saya semakin sesak mengingatnya. Saya pun menangis tak tertahankanโ€ฆ..

Pagi itu, menjadi pagi yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Pagi dimana orang yang sangat saya cintai di dunia ini pergi meninggalkan dunia untuk kembali ke dekapan Sang Penciptaโ€ฆ Setiap mengenang kejadian di pagi itu, saya hanya bisa menangis dan bercerita pada Allah.

Tidak pernah ada sedikit pun penyesalan dari diri saya akan setiap detik yang telah saya lewati dengan mamah. Di hari terakhir mamah hidup di dunia, Allah mengizinkan saya untuk melaksanakan sedikit bakti saya pada beliau. Memang hari itu saya berkesempatan untuk menyuapi beliau, memandikan beliau, membantu beliau mengganti bajunya, mengaji untuk beliau dan manjaga beliau seharian. Namun, bila dibandingkan dengan semua hal yang telah beliau lakukan dan korbankan untuk saya, rasanya hal tersebut tidak ada apa-apanya.

Jika ada satu hal yang sangat saya sesali adalah, ketidakmampuan saya untuk melaksanakan permintaan terakhir beliau pada saya, membacakan Surat Ar-Rahmaan untuk beliau hingga selesai. Hingga akhir hayatnya, saya belum bisa menuntaskan permintaan terakhir beliau dengan sempurna.Surat Ar-Rahmaan yang beliau minta untuk dibacakan oleh saya, belum bisa saya bacakan sampai ayat terakhir hingga di akhir hayatnya..

Itulah alasannya mengapa saya selalu menangis setiap mendengar atau membaca surat ini. Saya selalu mengingat saat-saat terakhir saya dengan mamah. Saya selalu ingat dengan ketidakmampuan saya untuk melaksanakan permintaan terakhir mamahโ€ฆ..

Seiring dengan berjalannya waktu, rasa sesak yang saya rasakan setiap mendengar atau membaca Surat Ar-Rahmaan sedikit demi sedikit berkurang. Saya sudah mulai menempatkan diri saya dalam fase penerimaan. Kata papap, โ€œsegala hal yang terjadi pada kita adalah yang terbaik di mata Allah SWT. Ketidakmampuan saya melaksanakan permintaan terakhir mamah pun pasti juga adalah kehendak Allah SWT. Yang harus kita lakukan adalah menerimanya dengan hati yang lapang dada dan selalu berusaha untuk mencari hikmah dan pelajaran dari setiap hal yang terjadi dalam hidup.โ€

Dari kejadian ini saya belajar untuk tidak pernah menunda-nunda apa yang harus saya kerjakan. Saya belajar untuk selalu menepati janji saya kepada siapapun. Karena kita sebagai manusia tidak akan pernah tahu batas waktu yang kita miliki di dunia ini.

Benar kata mamah, kadang menulis itu bisa jadi salah satu obat terapi untuk mengobati kesedihan dan kegundahan kita.

 

Annisa Rizki Auliailahi,

Hari ketiga Ramadhan.

Advertisements

2 thoughts on “rahasia kecil

  1. malah aku yang mau nangis rasanya T___T

    “segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik di mata Allah” setuju pisan rai, cuma emang kadang suka belom ngerti aja dengan maksud terjadinya sesuatu :”

    btw, itu mungkin maksudnya 2012 kali ya ๐Ÿ™‚

    • oiya salah ngetik. harusnya 2012. time flies~ ๐Ÿ™‚

      ah riryuwawaw, jangan jadi pengen nangis dong. hehe. aku juga nulisnya sambil curi-curi nangis (karena malu sama teteh kalau ketauan nangis) hehe

      udah nulis itu legaaaaaa banget rasanya ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s