forgive and forget

Parameter berhasil atau tidaknya seseorang memaafkan adalah ketika dia tidak lagi mengungkit-ngungkit kesalahan tersebut. Bahasa kerennya adalah ‘Forgive and Forget’. Nah, masalahnya, sering seseorang berkoar-koar bahwa dirinya telah memaafkan, namun suatu saat malah mengungkit-ngungkit kesalahan yang katanya sudah dimaafkan tersebut.

Padahal, dengan memaafkan, berarti kita telah mengundang kebahagiaan untuk diri sendiri.  Sebaliknya, dengan tidak memaafkan, untuk selanjutnya membenci hanya akan mengikat orang yang dibenci tersebut di hati kita.

Jadi, tidak pernah ada ruginya untuk memaafkan, bahkan ketika memilih untuk egois, toh untuk kebahagiaan sendiri juga. Sekarang tinggal bagaiman kita untuk bisa benar-benar memaafkan.

Saya ingin mencoba berbagi sedikit metode yang telah saya pelajari selama kurang lebih satu tahun untuk benar-benar memaafkan seseorang, berikut saya paparkan metodenya.

Hal pertama yang harus dilakukan apabila kita merasa disakiti adalah dengan berfikir dengan tenang dan jernih.  Cobalah kita renungkan, mengapa seseorang bisa menyakiti kita? Mengapa bisa terjadi perdebatan dan perselisihan? Perlukah marah? Pikirkan juga apakah akan terjadi hal yang buruk jika hal tersebut dibiarkan?

Ingatlah, bahwa apabila seseorang menyakiti perasaan, dapat dipastikan bahwa kita juga memiliki andil dalam adanya perselisihan tersebut. Tidak ada suatu pertengkaran yang murni disebabkan oleh satu individu.

Apabila dengan langkah tersebut kita masih merasa berat untuk memaafkan atau merasa kesalah tersebut kan berdampak lebih buruk apabila dibiarkan, maka perlu diambil langkah kedua, yaitu bicarakan masalah/ kesalahan yang terjadi bersama si ‘pelaku.

Dengan kepala dingin, bicarakan satu masalah yang ingin diselesaikan. Jangan merembet kesana kesini. Carilah penyebab masalahnya serta temukan kesalahan dari masing-masing individu. Harus diingat bahwa tidak ada orang yang salah 100 persen.

Jangan berhenti sebelum ditemukan solusi dari masalah tersebut. Berpisah atau saling menjauh untuk sementara waktu dengan si ‘pelaku’ bukanlah solusi yang diharamkan. Namun, yang saya maksudkan disini adalah berpisah dalam konteks solusi, bukan melarikan diri.

Setelah langkah kedua selesai, saatnya masuk ke langkah ketiga, yaitu memaafkan. Bayangkan kejadian yang telah menimbulkan rasa sakit hati. Bersamaan dengan itu, ucapkanlah,

‘Saya memaafkan kamu ketika kamu…… (sebutkan hal yang membuat kita sakit hati)”

Lakukan berulang-ulang hingga perasaan kita benar-benar yakin telah memaafkan kesalahan tersebut yang ditandai dengan tidak bermunculannya kembali sederetan emosi negative yang ada di pikiran kita. Bukti paling mudah untuk melihat keberhasilan metode ini adalah ketika seseorang tidak lagi mengungkit-ngungkit kejadian yang membuatnya sakit hati.

Jangan lupa memberi kepercayaan kepada ‘pelaku’ yang memicu rasa sakit hati. Dan yang terpenting, adalah jangan ragu untuk malakukan langkah-langkah tadi apabila kesalahan yang sama terulang kembali. Mengungkit masalah yang sebelumnya pun bukan hal yang haram, tapi hanya pembelajaran, bukan masalahnya.

Memaafkan itu memang sulit. Tapi sangat bisa untuk dilakukan.

Bandung, 28 Juli 2012 — dalam keadaan yang (masih) sangat dingin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s