our amazing journey

Bismillah. Hello readers!

Menyambung dari postingan terakhir saya di blog ini, insyaAllah mulai hari ini saya akan berbagi cerita mengenai perjalanan seru saya dan suami dalam ikhtiar kami untuk menjemput rejeki keturunan dari Allah.

When i say that this is an amazing journey (and experience) for us, yes of course it is! Tentu saja kami merasakan ada fase naik dan turun dalam ikhtiar ini. Ada saatnya dimana mental kami sedang down dan kami merasakan kerinduan yang teramat sangat akan sosok kecil yang tangisan dan tawanya bisa meramaikan rumah kami. Pada saat itu yang kami lakukan hanya benar-benar berpasrah dengan ketetapan Allah sembari terus berikhtiar serta tidak pernah berhenti untuk saling support satu sama lain.

Rasanya sudah tidak terhitung berapa banyak malam yang kami habiskan berdua untuk bersimpuh berdoa pada Allah, untuk senantiasa dikuatkan jiwa dan raga kami, diberikan pikiran positif yang selalu husnudzan dengan takdir pilihanNya, diberikan kemudahan untuk memantaskan diri menjadi sebaik-baiknya sebagai penerima titipan Allah kelak.

Rasanya sudah tidak terhitung berapa kali kami menangis sambil berpelukan, menguatkan mental satu sama lain, meyakinkan bahwa akan ada hasil terbaik yang Allah sudah siapkan untuk kami di akhir nanti.

Namun selain itu, ada masanya juga semangat kami begitu membara dalam berikhtiar, antrian panjang saat menunggu dokter dan loket farmasi tidak membuat kami mundur. Bagi kami, nothing worth having comes easy ๐Ÿ™‚

so, this is our story……..

***

Pengalaman Program Hamil Pertama di Samarinda

Pada usia pernikahan 9 bulan, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti promil di Samarinda. Kami memilih promil di Samarinda karena kebetulan pada saat itu suami saya sedang bertugas di Sangatta dan setelah mencari info kesana sini, ternyata di Sangatta belum ada dokter Sp.OG yang memiliki spesialisasi keahlian di bidang konsultasi fertilitas (Sp.OG, KFER). Setelah mencari info ke beberapa teman sembari googling, akhirnya kami menemukan satu dokter pilihan kami, dan beliau praktek di Samarinda. Hmm yaaa, lumayan lah jaraknya dari Sangatta. Tidak terlalu jauh (tapi tidak terlalu dekat juga sih hehehe). Kami sengaja memilih dokter perempuan karena saya merasa kurang nyaman saja jika diperiksa oleh laki-laki. Benar-benar alasan secara personal saja, tidak ada yang lain hehe.

Ketika pertama kali bertemu dengan dokter untuk memulai promil, rasanya degdegan. Ditambah lagi dengan antrian yang cukup panjang dan badan kami yang terasa masih lelah karena baru menempuh perjalanan jauh. Rasanya makin nervous saja.

Setelah menunggu agak lama, akhirnya nama saya pun dipanggil. Begitu masuk ruang periksa, rasa nervous saya langsung hilang. Dokter kami begitu ramah dan auranya positif sekali. Awalnya kami ditanya berbagai pertanyaan standar seperti lama menikah, apakah sudah pernah promil sebelumnya, obat-obatan apa saja yang pernah kami konsumsi, jadwal haid saya dll. Setelah mencatatan beberapa informasi , bu dokter meminta saya berbaring di kasur untuk memeriksa kondisi rahim melalui USG. Alhamdulillah kondisi rahim saya baik, ukurannya normal, ketebalannya juga normal. Hal yang paling membuat saya lega adalah tidak ditemukannya kista maupun miom di dalam rahim saya. Alhamdulillah.

Setelah pemeriksaan melalui USG, kemudian saya dan suami diberi obat penyubur serta vitamin dan kami berdua diminta kembali lagi untuk pemeriksaan selanjutnya bulan depan saat hari ketujuh-kesembilan haid.

Pada pertemuan selanjutnya, saya diperiksa keadaan rahim dan sel telurnya. Saya menjalani pemeriksaan dengan metode USG-tranvaginal. Karena ini merupakan pengalama pertama saya di-USG-transvaginal, rasanya super ngilu dan saya pun menangis. Memang dasarnya saya cengeng dan tidak kuat yang ngilu-ngilu sih, baru disuruh untuk membuka celana dan duduk dengan posisi ngangkang di kursi pemeriksaan aja saya sudah nangis karena takut hehehe. Alhamdulillah kondisi sel telur saya baik dan besar-besar. Kata dokternya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Alhamdulillah. Setelah pemeriksaan selesai, saya pun diberi resep obat dan vitamin untuk segera ditebus di apotik.

Saya melaksanakan program hamil di Samarinda selama kurang lebih 4 bulan dan selama itu qadarulloh belum ada berita baik bagi kami. Setelah rutin mengkonsumsi penyubur dan vitamin yang diresepkan oleh dokter, saya merasa nafsu makan saya naik drastis yang berimbas pada kenaikan berat badan saya. Pukul 10 pagi saya sudah merasa sangat lapar sampai badan saya gemetar. Selain itu saya sangat mudah mual dan muntah. Sepanjang hari saya pasti merasa mual dan merasa paling parah mualnya adalah sesaat setelah saya mengkonsumsi obat dan vitamin penyubur dari dokter.

Karena kondisi saya yang menurut saya tidak cocok dengan obat penyubur serta vitamin yang diresepkan oleh dokter di Samarinda, maka saya dan suami memutuskan untuk rehat dulu dalam program hamil ini. Selain karena belum menemukan dokter yang cocok (kami tidak melanjutkan promil di dokter yang pertama), fisik dan mental kami juga terasa sangat lelah. Setiap 2x dalam sebulan kami harus melakukan perjalanan ke Samarinda untuk promil. Jarang sekali kami menikmati weekend untuk bersantai dan beristirahat berdua.

Akhirnya pada Bulan Mei 2017, setelah ikhtiar selama 4 bulan, kami memutuskan untukย break sejenak dari promil ini. Saya dan suami kemudian merencanakan untuk berlibur menghilangkan penat kami sekaligus merayakan ulang tahun saya dan ulang tahun pernikahan kami ke Lombok. Itung-itung sembariย second honeymoon hehe. Harapannya adalah sepulang kami berlibur, semangat dan kondisi fisik kami akan ter-recharge sehingga bisa memulai promil kembali dengan semangat baru.

 

Next: Melanjutkan Program Hamil di Jakarta

 

 

 

Advertisements

Hello :)

Hello my fellow bloggers and readers, it’s been a long time since the last time i ‘really’ write in this blog, not just doing some reblogs or rewrite some good article. I’ve been so busy with my marriage life and my new business. Sometimes i kinda miss to write out my feelings and ideas through this blog, but you know, i always procrastinate and end up write nothing hehehe.

At first, it was so hard for me to open up about my struggles. I was ashamed, i always think that people won’t understand and i don’t need to release my stress by sharing story with others. But, one day i ask myself, why i must be ashamed of my story, if i had a chance to inspire others? So, finally i decided to write again. This time, i will frequently (aamiin. i hope sooo hahaha) to write about my amazing journey with my husband to become a parents.ย  Before you ask, No, i’m not pregnant (yet) hehe. We’re still doing some pregnancy program in Fertility Clinic in Bandung and i hope through this blog, you all can also send your best wishes for me and my husband. We really appreciate that.

So, here it is….

Have you ever wanted something so badly that you would do anything to get it? Would you spend all of your time and money just to get that one thing?ย Have you ever felt a yearning that would never go away? Would you pray so often and so intense that tears would come to your eyes?

I always knew I wanted children โ€“ maybe because I come from a large family. When I was looking for a husband, how he dealt with children was very important to me. In fact, seeing how my husband handled someone’s newborn baby was what made me interested in talking to him about marriage. After being married about two years we started trying to have children. We tried for about one year to get me pregnant. With no success, we went to a reproductive health clinic so my husband and I could get tested. (It is normal to take that long to conceive, so, unless there is an obvious problem, most clinics will not test before the couple has tried for one year). Many different tests were done. The doctors only found a minor problem that they assumed would be easy to deal with. We thought that I would get pregnant quickly and were very hopeful.

We’ve been trying for a year now. and yet, there are still no ‘two strips’ :). There was some sadness and disappointment; but then again, we just need more patience. We still kept trying, but had accepted Allah’s will – whatever it may be.

To Allah belongs the kingdom of the heavens and the earth. He creates what He wills. He bestows female (offspring) upon whom He wills, and bestows male (offspring) upon whom He wills. Or He bestows both males and females and He renders barren whomever He wills. Verily, He is the all-Knower and is Able to do all things.” [Quran 42:49-50]

It was a reminder that whatever was to happen would be the will of Allah and that I would accept whatever he had planned for me and my husband.

My humble advice to anyone trying: be informed about the drugs and the procedures, be prepared to have this as a big part of your life (for a while anyway InsyaAllah), know that there will be ups and downs, be patient with “fertile” people’s advice (especially when they try not to think about it, but every is structured around shots or ultrasounds), try and appreciate of gifts/opportunities Allah has given you, and most of all know that Allah is with you and He is the best planner your life. Always keep your spirit up! ๐Ÿ™‚

No matter how much we have, we human beings always have the capacity to make ourselves miserable over what we donโ€™t have. But we can also make a choice to be satisfied with what Allah has given us. We can look at couples with tons of perfect children and get stuck in thinking about what we want. Or we can think of all other blessings that Allah gave us. It is about perspective and gratitude.

Don’t forget to thank Allah for all that we have.

Mankind is tested in many ways. Infertility is obviously a burdensome trial given to certain men and women, and those who remain patient and steadfast in faith will be the successful. “Indeed, Allah is with those who are patient.”

Keep trying. Keep fighting. Keep believing.

Because nothing worth having comes easy.

.

.

.

.

see you on the next post ๐Ÿ™‚

happy anniversary :)

20180103_113801

Some people long for a life that is simple and planned, tied with a ribbon.
Some people won’t sail the sea ’cause they’re safer on land, to follow what’s written.
But, I’d follow you to the great unknown.
Off to a world we call our own โคโคโคโค

Our anniversary is not a celebration of our wedding day. It is the celebration of every day of being married to a man like you. Happy anniversary dear abim, my husband, my best friend ๐Ÿ™‚

Asal bersyukur, asal bersabar

Saat matahari bersinar, maka Allah tunjukkan keindahan warna-warna ciptaan-Nya kepada kita. Tapi saat matahari terbenam, ada keindahan lain yang muncul yang tak ada pada siang

Selalu ada kebaikan dalam hal apapun yang terjadi pada kita, asal kita bersyukur, asal kita bersabar. Sebab hikmah itu datang dari memaknai kehidupan, bukan dari kehidupan itu sendiri

Kadang kita menginginkan satu hal, tapi Allah memberi hal yang lain pada kita. Tapi kita tak selalu tahu yang terbaik, Allah yang paling tahu yang terbaik, yang paling cocok untuk kita

Hari ini kita merasa tak nyaman dengan ketentuan Allah, tapi boleh jadi esok-esok kita jadi paham kenapa Allah memilih kita untuk satu hal, bukannya orang yang lain, mengapa harus kita yang ditimpa satu hal diantara manusia

Allah punya cara tersendiri untuk menempa kita, jadikan kita hamba sejati baginya. Bisa jadi semua yang kita rasakan berat saat ini, Allah berikan agar kita semakin tergantung kepada Allah bukan yang lainnya

Asalkan kita bersabar, asalkan kita bersyukur, maka Allah akan sisipkan bahagia dalam hati, layaknya malam memberikan ketenangan yang tak diberikan pada siang hari

Jalan ketaatan itu penuh dengan banyak sekali ujian, tapi jalan kemaksiatan pun banyak juga ujiannya. Sama-sama susah, sekalian saja ambil yang baik, asalkan syukur, asalkan sabar, semua akan Allah jadikan indah.

 

Source: facebook fanpage Ustadz Felix Siaw

ibu yang luar biasa

Banyak ibu luar biasa di dunia ini.

Terlebih mereka yang memiliki anak spesial dengan kebutuhan khusus Anak-anak itu spesial, mereka terlihat berbeda, namun hakikatnya tetap sama, manusia ciptaanNya.

Melihat seorang sepupu yang memiliki anak spesial. Wow, bagi saya dia hebat. Membesarkan anak dengan luar biasa. Seolah anak itu sama dengan yang lain. Ah, sebetulnya memang sama, hanya saja kita belum memahami. Meski sang anak yang sudah berusia 6 tahu ini belum bisa duduk, apalagi berjalan, dia memperlakukannya sama seperti ibu lain dengan anak โ€˜normalโ€™nya. Tak pernah ia hiraukan tentang pandangan orang yang melihat โ€˜anehโ€™ kearahnya. Mengajak anaknya mengobrol, bercanda, memarahi ketika anaknya โ€˜bandelโ€™. :โ€™)

Allah menurunkan anak-anak spesial untuk ibu-ibu hebat di dunia ini. Hanya mereka yang mampu untuk mendapatkannya.

Salam untuk kalian ibu-ibu super dari seorang calon ibu (yang insyaAllah juga super seperti kalian. aamiin), semoga Allah siapkan jannahNya untuk kalian yang telah bersabar. :โ€™)

Jika Kau Rindu Blazermu

Di antara harum masakan yang menguar dari wajan dan panci panas, seorang Ibu menyeka keringatnya.

Hari-harinya sesederhana memasak dan mengantar sekolah anak, melipat selimut dan melatih sabar agar tidak mudah merengut, menjalankan bisnis dari rumah sembari memastikan segala kewajiban sebagai Ibu dan istri berjalan terarah.

Anak-anaknya tumbuh sehat ceria, pun suaminya menemani dan membantu mengurusi segala lintang pukang dalam berumah tangga. Semua telah terkoordinir dalam kerja sama.

Si Ibu menghela syukur dalam nafasnya, sembari teringat betapa lincahnya ia semasa sekolah dan kuliah, betapa berprestasinya ia di mata teman seangkatan, betapa dibanggakannya ia oleh orang tua dan keluarga.

Masih di tengah kepulan aroma masakan, ia menggeser ingatan pada betapa bahagia ketika ia pertama bekerja, betapa gemah ripah penghasilannya, betapa banyak yang bisa ia bagikan ke sesama.

Ia mulai rindu blazernya, rindu mengenakannya, rindu berkontribusi sebagai tenaga ahli karena sadar ia masih menyimpan begitu banyak potensi yang belum terjamah elaborasi.

Kemudian ia teringat deretan teman masa sekolahnya yang nilainya bahkan tidak jauh lebih baik darinya, yang prestasinya hanya bergulir mepet standar kelulusan, yang adabnya selama menuntut ilmu tidak elok untuk ditiru, namun mereka tetap meniti karir dan lengkap dengan atribut yang pantas dibanggakan.

Si Ibu gerah. Si Ibu makin rindu blazernya.
Rindu mengejawantahkan passion pembelajarnya, rindu mewujudkan rupa buah pikirnya, rindu mengasah kritis pada ilmu empiris.

Sementara dasternya makin lekat aroma masakan. Sementara dasternya makin pekat dengan keringat.

===

Niat.
Adalah satu hal yang wajib kita cantolkan pada tiang-tiang baja agar tetap lurus sesuai itikad awalnya.

Ketika wanita dengan segala potensi kontribusinya untuk dunia memilih untuk “bertapa”, mengistirahatkan ijazahnya, menyimpan blazernya, dan memilih jalan pengabdian dari rumah maka wanita perlu melaminasi niat mereka agar tetap lurus dan tulus.

Ada yang menepi demi membersamai suami, agar pernikahan dijalani dalam jarak yang lebih berdekatan. Ada yang menepi demi menjamin pengasuhan buah hati. Ada yang menepi demi menggenapi jemputan ridho Illahi.

Maka niat inilah tempat para wanita kembali merefleksikan orientasi, tempat mengukur progres pencapaian diri, tempat memulangkan ricuhnya ego yang terjangkiti polusi duniawi.

Ketika kau rindukan blazermu, untuk sekedar mengkatrol kasta sosialmu..
Wajar berpikir demikian di antara gempitanya pergaulan. Namun melambungkan dan menjaga kesederhanaan, adalah juga ideologi yang belum pasti semua orang mampu mengeksekusi.

Ketika kau rindukan blazermu, untuk pembuktian pada teman seangkatanmu..
Bahwa mereka yang dulu nilainya jeblok luar biasa, yang kita lihat sekarang mampu berfoya-foya belum tentu memiliki sedimentasi bahagia seindah kita.
Keberhasilan membesarkan keluarga dan anak, ditentukan oleh Ibu yang selalu mau belajar.

Ketika kau rindukan blazermu, untuk alasan menambah lebih banyak pundi sementara suami masih mampu mencukupi..
Tengok kembali tauhid rezeki kita, tengok kembali frekuensi sedekah kita. Revisi.
Karena antara definisi butuh dan ingin, kadang disusupi oleh rasa tamak yang menguak.

Ketika kau rindukan blazermu, bukan untuk kebermanfaatan yang nyata bagi kehidupan, bukan untuk membantu mengurangi permasalahan umat, bukan untuk mengembalikan bakti pada orang tua..
Ukur kembali seberapa dunia membutuhkan kita, seberapa banyak yang bisa kita berikan dibandingkan dengan otoritas penuh kita meramut keluarga dengan teladan kebaikan langsung dari tangan pertama.

===

Dastermu, boleh jadi tidak ada harganya dibanding dengan blazermu di masa lalu.

Menjadi Ibu dan istri adalah jalan panjang yang cukup menyibukkan diri jika kita berkenan selalu belajar dari hari ke hari. Dan daster-daster apak kita adalah alat bukti, betapa keringat telah kita ikhlaskan untuk berjibaku menguras mental dan tenaga.

Ibu rumah tangga tetap butuh terdidik, tetap butuh pengalaman bekerja demi mengasah keterampilan sosialnya, tetap butuh belajar dari pengalaman Ibu lainnya baik sesama Ibu berdaster maupun dari Ibu berblazer.
Karena dari saripati pengalamannya, ia akan mampu menentukan manuver berumah tangga dengan bijaksana.

Ketika dastermu mulai kumal, dan kau tergoda untuk menggantinya dengan blazer mahal, tentu itu wajar.

Coba renungi dulu barang sebentar, siapa tau kita hanya butuh daster lain yang lebih baru, yang lebih bersinar karena dijejali ilmu, yang lebih bersahaja karena aura pemakainya pun bijaksana.

Pun demikian dengan para Ibu yang akrab dengan blazernya, akan ada saatnya mereka menimang peran sutradara yang menghidupkan keluarga dari balik sunyinya layar rumah tangga.

Jalan lenggang tiap wanita akan selalu beriak tidak sama. Jika kita berganti kostum suatu hari nanti, pastikan niat adalah yang paling pertama kita curigai.

 

*somewhere over facebook

๐ŸŒพJika Tanganmu Pendek, Maka Panjangkanlah Lisanmu๐ŸŒพ

๐Ÿ‚Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizahullah berkata,

๐ŸŒฟ“Jika tanganmu terlalu โ€œpendekโ€ untuk membalas kebaikan sahabatmu, maka โ€œpanjangkanlah lisanmuโ€ dengan memperbanyak terima kasih dan mendoโ€™akannya.”

๐ŸƒJika engkau tidak memiliki apa-apa untuk membalas kebaikan saudaramu, maka mintalah kepada Allah Yang Maha Kaya untuk memberikannya kepada saudaramu itu.

๐ŸRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ู…ูุณู’ุชูŽุฌูŽุงุจูŽุฉูŒ

๐ŸŒฑ“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan.

ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู…ูŽู„ูŽูƒูŒ ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ูŒ ูƒูู„ูŽู‘ู…ูŽุง ุฏูŽุนูŽุง ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒู ุงู„ู’ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ู ุจูู‡ู ุขู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ู

๐ŸŒดDi atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan โ€˜Aamiin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim)